Pages

Sabtu, 13 Juni 2015

Tata Surya



BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Jika kita mengamati matahari pada siang hari serta bulan dan bintang pada malam hari, kita pasti melihat semua benda langit itu tampak mengitari bumi. Seolah-olah bumi menjadi pusat alam semesta. Sulit membayangkan bahwa sebenarnya  bumi bukan pusat alam semesta, tetapi menjadi satelit benda langit lain yang menurut penglihatan kita bergerak mengitari bumi. Oleh karena itu, wajarlah kalau pada awal perkembangan ilmu astronomi, hipotesis yang paling banyak diterima tentang kedudukan bumi di alam semesta adalah hipotesis geosentris, bumi adalah pusat alam semesta.
            Dalam perjalanan waktu, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi kemudian diketaui bahwa bumi beserta planet-planet lain mengelilingi matahari. Dan, matahari beserta planet-planet itu ternyata hanyalah salah satu dari sekian banyak tata surya di dalam Galaksi Bima Sakti. Dan Galaksi Bima Sakti hanyalah satu bagian dari sekian banyak galaksi di alam semesta.
            Untuk mengetahui lebih banyak mengenai tata surya kita di susunlah makalah ini dengan judul “Tata Surya dan Anggotanya”, guna memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Sains.

2.      Rumusan Masalah
Masalah yang akan dirumuskan dalam makalah ini adalah, mengapa Pluto tidak lagi dimasukkan ke dalam anggota tata surya?

3.      Tujuan Penulisan
Penulisan makalah dengan judul “Tata Surya dan Anggotanya” bertujuan untuk menguraikan  mengenai alasan tidak dimasukkannya Pluto ke dalam anggota tata surya.                                                   


BAB II
LANDASAN TEORI
TATA SURYA DAN ANGGOTANYA

            Tata surya adalah suatu kelompok benda langit, yaitu matahari dan planet-planet yang terdiri dari Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus beserta 165 buah satelit planet yang sudah diketahui sampai sekarang, serta objek-objek tata surya lainnya, seperti asteroid, meteorit, planet katai dan komet yang bergerak mengikuti dinamika Newton.

Pembentukan Tata Surya
            Pertanyaan manusia mengenai asal usul benda langit yang bergerak teratur di langit memunculkan beberapa teori pembentukan tata surya, antara lain
a.       Teori Turbulensi oleh Rene Decartes (1546-1650)
Teori ini menyatakan bahwa alam semesta yang berisi eter dan materi dengan pusaran-pusaran. Pusaran-pusaran inilah yang mengakibatkan munculnya tata surya.
b.      Teori Pasang Surut oleh Buffon (1707-1788)
Teori ini menyatakan bahwa tata surya berasal dari terlemparnya sebagian materi matahari akibat tumbukan matahari dengan sebuah komet yang berlangsung sekitar 700.000 tahun yang lalu. Teori ini kemudian diperbaiki oleh Bickerton pada tahun 1880 dan Chamberlian pada tahun 1901 dan Moulton pada tahun 1905. Mereka mengemukakan bahwa suatu ketika sebuah bintang lewat di dekat matahari sehingga sebagian materi matahari tertarik oleh gaya gravitasi bintang ini. Materi yang tertarik inilah yang kemudian memadat menjadi planet-planet dan satelit-satelitnya.
c.       Teori Kabut atau Teori Nebula oleh Immanuel Kant (1724-1804) dan Pierre Simon de Laplace (1749-1827)
Mereka menyatakan tata surya berasal dari sebuah awan gas raksasa yang mengerut sambil berputar akibat gaya gravitasi. Saat mengerut, kecepatan rotasinya semakin bertambah sehingga bentuknya yang seperti bola berubah manjadi piringan yang terus berputar. Karena terus berputar, ada bagian-bagian piringan ini yang terlempar keluar, memadat, lalu menjadi planet-planet dan satelitnya.

Anggota Tata Surya
a.       Matahari
Matahari adalah sebuah bintang yang berjarak 150 juta
kilometer dari bumi. Karena jaraknya begitu dekat,
pancaran radiasi matahari sangat terasa di bumi. Matahari
adalah suatu bola gas yang pijar yang ternyata tidak
berbentuk bulat seutuhnya. Matahari merupakan anggota
tata surya yang paling besar, karena 98% massa tata surya
terkumpul pada matahari.

Gambaran umum Matahari kita
Parameter Fisik
Besar
Umur
4,5 miliar tahun
Massa
1,99 x 1030 kg
Jari-jari
696.000 km
Kerapatan rata-rata
1.4 gr/cm3
Jarak rata-rata dari bumi
150 juta km
Periode rotasi
26 hari
Percepata gravitasi di permukaan
274 m/det2
Temperatur permukaan
6000 oC




Bagian-bagian Matahari
1.      Fotosfer
Fotosfer adalah bagian yang paling mudah
kelihatan dari Bumi. Bagian ini memiliki temperatur
sekitar 6000 oC , dan didominasi oleh unsur-
unsur hidrogen dan helium (75% hidrogen, 23%
helium dan sisanya unsur-unsur lain). Di atas
fotosfer, terdapat daerah temperatur minimum
yang merupakan daerah terdingin matahari,
terletak 500 km di atas fotosfer, dan memiliki
temperatur 4000 K. Karena cukup dingin di daerah
ini terdapat juga molekul-molekul, seperti air dan karbon monoksida.
2.      Kromosfer
Nama kromosfer berasal dari warna merah yang diakibatkan oleh atom-atom hidrogen. Kromosfer memiliki ketebalan 2.000-3.000 km. Di bagian bawah kromosfer suhunya 4.500oC sedangkan dibagian perbatasan dengan daerah diatasnya yang dinamakan daerah transisi suhunya 100.000oC.
3.      Korona
Di atas daerah transisi kromosfer, terdapat lapisan terluar matahari yang sangat renggang dan disebut korona, yang berarti mahkota.  Korona terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian korona F (Fraunhofer), bagian korona K (Kontinuum) dan bagian korona K dan F yang ditumpangi spektrum unsur-unsur yang terionisasi.
4.      Inti Matahari
Inti matahari adalah tempat berlangsungnya reaksi fusi. Bagian inti membangkitkan 99% energi yang dibangkitkan oleh matahari. Massa inti matahari ini setengah dari massa matahari seluruhnya, tetapi volumenya hanya seperlimapuluh volume seluruh matahari. Inti matahari bertemperatur 16 juta derajat Celcius.
 

b.      Merkurius
Merkurius adalah benda langit yang cukup terang.
Jika diamati dari bumi, Merkurius tampak memiliki
fase-fase seperti bulan. Jarak planet ini dengan matahari
berkisar antara 46-70 juta km. Massa Merkurius adalah
3,29 x 1023 kg, dan jari-jarinya sebesar 2440 km
(0,38 kali jari-jari bumi). Periode orbitnya sebesar 88 hari yang sama dengan periode rotasinya. Planet ini memiliki inti besi dan nikel yang merupakan dua pertiga dari massa total Merkurius, dan sisanya adalah selubung silikat, magnesium, alumunium, dan kalsium. Secara garis besar, permukaan Merkurius memiliki dua macam daerah, yaitu daerah yang dipenuhi dengan kawah dan daerah tanpa kawah. Di permukaannya, banyak terdapat kawah akibat bombardemen meteor yang sangat sering terjadi. Hal ini menyebabkan kaawah-kawah di Merkurius mencapai lebar ratusan kilometer.

c.       Venus
Seperti Merkurius, Venus adalah planet inferior.
Rata-rata jarak orbit Venus mengelilingi Matahari adalah
106 juta km. Satu kali revolusi ditempuhnya selama
224,7 hari, dan periode rotasinya adalah 243 hari.
Massa Venus adalah sebesar 0,82 massa bumi, dan jari-
jarinya hanya berselisih 300 km dari jari-jari bumi.
Venus didominasi oleh permukaan datar dan lereng-lereng. Hanya 10% luas permukaan Venus berupa dataran tinggi yang mirip dengan benua-
benua yang ada di permukaan bumi.

d.      Bumi
Bumi mengorbit matahari dalam lintasan elips dengan
jarak rata-rata dari matahari sebesar 149.500.000 km.
Seperti Merkurius dan Venus, komposisi bumi sebagian
besar terdiri dari batuan silikat dan magnesium.
Diperkirakan usianya mencapai 4,6 milyar tahun. Bumi
mempunyai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet
yang disebut magnetosfer. Lapisan udara ini menyelimuti
bumi hingga ketinggian sekitar 700 km. Lapisan
udara ini terbagi menjadi troposfer, stratosfer, mesosfer,
termosfer, dan eksosfer. Massa bumi seberat 59.760 milyar ton dengan luas permukaan 510 juta km2 dan diameternya sepanjang 12.756 km.



Bagian-bagian bumi :
1.      Bagian Inti
Inti bumi terbagi menjadi dua bagian,
yaitu inti dalam yang padat dengan jari-
jari sekitar 1220 km dan diselubungi inti
luar yang meluas sampai pada jarak 3480
km dari pusatnya.
2.      Lapisan Selubung/Mantel Padat
Komposisi lapisan ini sebagian besar adalah silikat besi dan magnesium dan kedalamannya mencapai 2900 km. Tekanan yang terdapat di bagian bawah mantel mencapai 1,4 juta atmosfer.
3.      Lapisan Kerak Bumi
Lapisan ini memiliki tebal rata-rata 35 km dan bervariasi antara 5 sampai 70 km. Bagian yang tipis merupakan kerak samudra, tersusun dari batuan silikat besi magnesium dan menjadi dasar daerah-daerah samudra. Bagian yang lebih tebal merupakan kerak benua yang kerapatannya lebih rendah daripada kerak samudra yang tersusun dari batuan silikat natrium kalium alumunium.
 

e.       Mars
Mars mengorbit matahari dengan periode 687 hari pada
jarak rata-rata 227 juta km. Planet ini berotasi pada sumbunya
dengan periode 24 jam 36 menit 23 detik. Permukaan Mars
yang berwarna coklat kekuningan dipenuhi dengan batuan.
Di samping batuan, di permukaan Mars terdapat pula debu-
debu halus berukuran kurang dari 10 mikron, dan akibat
hembusan angin, debu-debu itu membentuk bukit-bukit pasir seperti yang terdapat di gurun pasir di bumi. Mars memiliki dua buah satelit, yaitu Phobos dan Deimos.
 

f.       Yupiter
Yupiter memiliki massa sebesar 318 kali massa bumi,
yaitu 1,89 x 1027 kg, massa yang sama besarnya dengan
2/3 massa tata surya di luar matahari. Planet ini memiliki
diameter 143.000 km (11 kali diameter bumi).  Yupiter
mengorbit matahari pada jarak 778 juta km, dan laju rotasinya adalah 10 jam. Di Yupiter terdapat pita-pita gelap dan terang yang membujur sepanjang arah rotasi planet ini. Adanya pita-pita ini berasal dari arus konveksi yang bergerak dari dalam Yupiter.

g.      Saturnus
Saturnus merupakan sebuah planet raksasa yang
ukurannya 9 kali lebih besar dari uikuran bumi,
dan massanya 95 kali lebih besar. Saturnus terbagi
menjadi tiga bagian, yaitu inti batuan dan besi,
hidrogen dan helium metalik, dan bagian terluar
yang terdiri dari molekul-molekul hidrogen, helium,
dan air

h.      Uranus
Uranus memiliki massa 8,66 x 1025 kg (14,54 kali massa
bumi). Uranus tidak sepepat Yupiter atau Saturnus, karena
jari-jari di ekuatornya adalah 25.900 km, sedangkan jari-jari
di kutubnya adalah 25.300 km. Planet ini didominasi oleh es
dan batuan ditambah dengan sedikit hidrogen dan helium.
Jarak Uranus dari Matahari sekitar 2875 juta km. Uranus
memiliki 27 satelit. Satelit yang paling besar antara lain
Ariel, Umbriel, Titania, Oberon, dan Miranda.

i.        Neptunus
Dari bumi, Neptunus kelihatan
berwarna biru kehijauan. Neptunus
memiliki massa sekitar 17,24 kali massa
bumi (1,03 x 1026 kg). Diameter Neptunus
sekitar 49.530 km. jarak Neptunus dari
matahari sekitar 4500 juta km. Seperti
Uranus, Neptunus terbagi menjadi tiga
bagian, yaitu bagian inti, selubung, dan
atmosfer.

Anggota  Tata Surya Bukan Planet
a.       Bulan
Bulan mengorbit bumi dengan periode 27,3 hari. Bulan
memiliki massa 0,0123 massa bumi (7,33 x 1022 kg), dan
berjari-jari sekitar 1737 km. Secara umum, permukaan bulan
terbagi menjadi dua daerah, yaitu daerah terang dan daerah
gelap. Daerah terang adalah dataran tinggi yang diberi nama
terrae (yang berarti bumi), sedangkan daerah gelap disebut
maria (yang artinya laut).
      Bulan yang ditarik oleh gaya gravitasi bumi tidak jatuh ke bumi disebabkan oleh adanya gaya sentrifugal yang timbul dari orbit bulan mengelilingi bumi. Besarnya gaya sentrifugal bumi sedikit lebih besar dari gaya tarik-menarik antara gaya gravitasi bumi dan bulan (1/6 gaya gravitasi bumi). Hal ini menyebabkan bulan semakin menjauh dari bumi dengan kecepatan sekitar 3,8 cm per tahun dan akan semakin cepat di masa yang akan datang.

b.      Asteroid
Asteroid, pernah disebut sebagai planet
minor atau planetoid, adalah benda berukuran
lebih kecil daripada planet, tetapi lebih besar
daripada meteoroid. Para ahli cenderung
berpikiran asteroid-asteroid ini adalah sebuah
planet yang gagal terbentuk.


c.       Komet
 Komet terdiri dari bahan-bahan bekuan es,
karbon dioksida, amonia, sianida, metana, dan
beberapa jenis logam. Sebutan komet berasal dari
kata Yunani, coma, yang berarti rambut.
Penyebutan itu berasal dari penampakannya yang
seperti rambut terurai saat berada di dekat matahari.
Pada saat jauh dari matahari, komet masih berupa
gumpalan es kotor, yang berukuran sekitar 1-10 km.
Ketika bergerak dan berada cukup dekat dengan
matahari muncullah selubung gas dan debu yang
menyelubungi inti dan disebut coma. Sebagai salah satu
penjelajah kecil di tata surya, komet juga mengedari
matahari. Orbit komet berbentuk elips yang sangat
lonjong.
      Komet yang sering terlihat yaitu komet Kohoutek,
Hyakutake, dan Hale-Bopp yang mempunyai periode
edar panjang. Ada yang berperiode pendek misalnya
komet Halley, Biela, dan Encke.

d.      Meteorit
 
meteor yang menghantam bumi                                                              meteorit
Meteorit merupakan meteoroid yang jatuh ke permukaan bumi. Jika ukuran meteorit cukup besar, ini akan menghasilkan sebuah kawah. Dari komposisinya, meteorit bisa dibagi menjadi tiga macam, yaitu meteorit yang hampir seluruhnya logam, meteorit yang mirip batuan bumi, dan meteorit campuran besi dan batuan.  

BAB III
ANALISIS

A.    Analisis Masalah
 
Pluto dan Charon                                                        Eris dan Dysnomia
Mengapa pluto tidak dimasukkan dalam anggota tata surya?
Perubahan definisi pluto tidak lagi sebagai planet adalah karena orbit pluto yang sangat lonjong dan terkadang  memotong orbit planet Neptunus. Dengan orbit seperti ini Pluto tidak selalu menjadi planet terjauh dari Matahari. Selama 1979 - 1999, rekor sebagai planet terjauh dari matahari justru dipegang oleh Neptunus, karena pada saat yang bersamaan Pluto menghabiskan sebagian waktunya mengitari matahari di sebelah dalam orbit Neptunus.
Pluto berbeda dengan kedelapan planet lainnya, bhkan komposisi kimianya lebih menyerupai komet daripada planet. Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus mempunyai ciri-ciri yang mirip dan sifat-sifatnya bisa dijelaskan dari proses pembentukan tata surya. Empat planet pertama disebut planet keluarga bumi karena komposisinya mirip bumi, terutama terdiri dari batuan silikat dan logam. Empat planet berikutnya disebut planet keluarga Jupiter yang merupakan planet raksasa dengan komposisi utamanya adalah unsur-unsur ringan (hidrogen, helium, argon, karbon, oksigen, dan nitrogen) berbentuk gas atau cair. Sedangkan Pluto terdiri dari batuan dan es. Atmosfernya sangat tipis terdiri dari nitrogen, karbon monoksida, dan metan yang hampir selalu berupa gas beku. Kondisi ini aneh bila dibandingkan dengan proses pembentukan planet keluarga Jupiter. Semestinya semakin jauh dari matahari, bila proses pembentukannya sama, akan terbentuk planet gas juga yang tergolong besar ukurannya.
Sebuah pertanyaan apakah pluto itu? Sebuah kometkah, sebuah planet, atau sebuah asteroid? Itu adalah jawaban bagi pesawat NASA New Horizons yang sudah berkembang sejak 2006 dan mencapai Pluto tahun 2012. Tetapi sebelum itu masih berlaku resolusi IAU-2006 seperti yang telah diuraikan sebelumnya Pluto adalah sebuah planet kerdil atau planet katai. Sedikit lebih besar daripada sekedar sebuah komet dan bukan asteroid karena memiliki atmosfer (berupa methan) yang tidak diperlihatkan asteroid apapun.
Selanjutnya, penemuan Eris semakin meyakinkan bahwa objek ini tidak banyak berbeda dengan planet-planet kerdil lainnya. Pada awalnya, planet Eris diberi nama 2003 UB313. Eris merupakan planet kecil terbesar yang mengorbit matahari dan merupakan benda terbesar nomor sembilan yang mengorbit matahari. Pengamatan menggunakan Teleskop Hubble pada bulan April 2006 menunjukkan bahwa diameternya adalah 2400 km (sedikit lebih besar dari diameter Pluto yang hanya 2302 km). Eris ditemukan pada tahun 2005 oleh sekelompok astronom di Gunung Palomar, dan ia memiliki satu buah satelit yang kemudian diberi nama Dysnomia. Yang diperdebatkan para astronom saat itu adalah apakah objek ini digolongkan menjadi planet kesepuluh atau menjadi planet kecil saja. Akan tetapi, penemuan ini bersama dengan banyak penemuan objek trans-neptunian lainnya memancing perdebatan baru tentang definisi planet, sehingga International Astronomical Union (IAU) merasa perlu membuat definisi baru tentang planet yang lebih akurat.
Sebelum tahun 2006, Pluto masih menyandang status sebagai sebuah planet dan terjauh (terletak di urutan kesembilan), bersama dengan delapan planet anggota Tata Surya lainnya mengelilingi Matahari. Pada 1978 Pluto diketahui memiliki satelit yang berukuran tidak terlalu kecil darinya bernama Charon (berdiameter 1.196km). kemudian pada tahun 2005 ditemukan lagi satelit lainnya, Nix dan Hydra.  Akhirnya, pada tanggal 24 Agustus 2006, bersama dengan Pluto dan Ceres, Eris dimasukkan ke dalam golongan planet kecil.

Kini IAU telah membuat definisi baru tentang planet. Planet adalah benda langit yang (1) mengorbit matahari, (2) mempunyai massa lebih dari 1020 kg, berbentuk bulat, diameternya lebih dari 800 km, dan (3) orbit tidak berpotongan. Atau dapat dikatakan planet adalah benda langit yang mengitari matahari, bentuknya bulat, dan merupakan satu-satunya objek dominan di orbitnya.
Dengan definisi itu Pluto tersingkir, karena di sekitar orbitnya banyak juga objek sejenis. Ceres pun yang sempat diusulkan lagi jadi planet bersama Xena (Eris) jadi tersingkir karena di sekitar orbitnya banyak terdapat asteroid.

B.     Analisis Penerapan di Kelas
Metode pembelajaran yang tepat untuk menyampaikan materi Tata Surya dan Anggotanya di kelas adalah dengan memberi penjelasan disertai gambar-gambar atau bisa juga dengan memutar video singkat yang menjelaskan tentang Tata Surya dan Anggotanya. Atau bisa juga dengan menggunakan miniatur tata surya. Dengan metode pembelajaran tersebut diharapkan pelajar akan lebih mudah memahami dan mengingat-ingat materi yang telah disampaikan, karena kecenderungan otak kanan untuk mengingat hal-hal yang berhubungan dengan warna. Penyampaian materi bisa juga dilakukan dengan mengunjungi sebuah observatorium. Metode ini dirasa lebih efektif karena kecenderungan hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman akan lebih cepat diingat dan lebih lama tersimpan dalam memori otak.
Setelah materi selesai dijelaskan, untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman pelajar terhadap materi tersebut pengajar bisa memberi pertanyaan-pertanyaan ringan atau kuis mengenai materi yang telah disampaikan. Kuis tidak harus diberikan dengan menyuruh pelajar mengeluarkan selembar kertas untuk mencatat pertanyaan dan menjawabannya, atau dengan menampilkan pertanyaan pada layar dan pelajar diminta untuk menjawab dalam waktu yang sudah ditentukan. Kuis seperti ini justru akan membuat siswa menjadi gugup atau bahkan merasa bosan dengan pelajaran yang disampaikan.
Sebaliknya kuis akan terasa menarik dan menyenangkan jika dilakukan dengan sedikit peramainan. Bisa dengan memanggil seorang pelajar maju kedepan untuk melemparkan kertas kearah temannya dengan mata tertutup atau menghadap kepapan tulis, dan pelajar yang terkena lemparan itulah yang akan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru lalu kemudian maju ke depan untuk melakukan lemparan selanjutnya, dan begitu seterusnya.
Kuis juga bisa dilakukan dengan pengajar membuat beberapa pertanyaan pada kertas yang kemudian digulung dan dimasukkan kedalam bola yang telah dilubangi. Bola tersebut nantinya akan dipegang oleh pelajar pertama yang kemudian akan diteruskan kepada pelajar yang disampingnya secara estafet sambil diiringi dengan musik. Bola harus tetap berjalan selama musik masih dimainkan, dan saat musik berhenti bola juga harus berhenti. Dan anak terakhir yang memegang bola itulah yang harus mengambil satu gulungan kertas pertanyaan yang telah disiapkan pengajar di dalam bola, kemudian pelajar tersebut membaca pertanyaan tersebut dengan suara lantang dan menjawab pertanyaannya.
Atau kuis bisa dilakukan dengan permainan-permainan lain yang dirasa lebih efektif dan menyenangkan bagi pelajar agar tidak menciptakan kejenuhan bagi pelajar-pelajar. Dengan metode PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) dirasa sangat cocok untuk pembelajaran sains yang cenderung membuat pelajar menjadi jenuh dan bosan.














BAB IV
PENUTUP

1.      Kesimpulan
Perubahan definisi pluto tidak lagi sebagai planet adalah karena pluto tidak memenuhi kriteria resolusi nomor 5A, pasal 1c, yaitu orbit pluto yang memotong orbit planet Neptunus.
Penemuan Eris semakin meyakinkan bahwa objek ini tidak banyak berbeda dengan planet-planet kerdil lainnya. Akan tetapi, penemuan ini bersama dengan banyak penemuan objek trans-neptunian lainnya memancing perdebatan baru tentang definisi planet, sehingga International Astronomical Union merasa perlu membuat definisi baru tentang planet yang lebih akurat. Akhirnya, pada tanggal 24 Agustus 2006, bersama dengan Pluto dan Ceres, Eris dimasukkan ke dalam golongan planet kecil.

2.      Saran
Dengan disusunnya makalah yang berisi materi dilengkapi dengan metode penyampaiannya  diharapkan para pengajar bisa menyampaikan materi dengan metode-metode yang lebih efektif dan tidak monoton sehingga akan membuat pelajar lebih mudah memahami dan tidak bosan dengan pelajaran yang disampaikan.


Pertanyaan :
1.      Arfian Eka Nugroho :
a.       Apakah Pluto mengalami rotasi dan revolusi?
b.      Apa pengaruh rotasi Pluto?
2.      Wahyuning Suwita :
a.       Apakah ada perubahan pada Pluto sehingga menyebabkan Pluto dikeluarkan dari tata surya?
b.      Apa penyebab orbit Pluto lonjong?
3.      Lufti Holifah :
Apakah pengaruh dikeluarkannya Pluto dari tata surya?
Jawaban :
1.      Pluto sebagai planet juga mengalami rotasi dan revolusi. Periode rotasi Pluto adalah 6,39 hari, sedangkan periode revolusi adalah 248,4 tahun.
Pengaruh rotasi pada Pluto adalah terjadinya pergantian siang dan malam, sama seperti pengaruh rotasi pada BUmi, hanya saja waktunya yang berbeda. Satu hari di Pluto yaitu 153,36 jam (6,39 hari di Bumi).
2.      Secara fisik tidak ada perubahan pada Pluto, baik komposisi, struktur, maupun orbitnya, dari pertama kali ditemukan sampai saat ini. Penyebab Pluto dikeluarkan dari tata surya adalah :
a.       Orbit Pluto yang memotong orbit Neptunus. Pluto sendiri, dengan orbit memanjangnya yang aneh, memiliki perilaku lebih mirip objek Sabuk Kuiper dibanding sebuah planet, demikian anggapan beberapa astronom.
b.      Pada orbit Pluto terdapat banyak asteroid
c.       Ditemukannya Planet Eris yang diameternya sedikit lebih besar dari Pluto.
d.      Banyaknya objek trans Neptunian yang serupa dengan Pluto, sehingga jika Pluto dimasukkan dalam tata surya tidak hanya Eris dan Ceres saja yang menjadi anggota tata surya tetapi kemungkinan besar akan ada banyak planet lain yang menjadi anggota tata surya.
3.      Ada dua sudut pandang pengaruh dikeluarkannya Pluto dari tata surya. Pertama, terhadap sistem tata surya. Secara fisik, tidak ada pengaruhnya terhadap sistem edar planet dalam tata surya. Kedua, dilihat dari perkembangan ilmu pengetahuan. Dikeluarkannya Pluto menyebabkan terjadinya perubahan pada definisi planet dan jumlah anggota tata surya itu sendiri.

KONTROVERSI PLUTO
Setelah bertahun-tahun bergumul dalam perdebatan yang intens, para astronom yang berkumpul di Praha, Ceko memutuskan untuk menurunkan status Pluto menjadi bukan anggota planet di tata surya. "Pluto bukan lagi planet, kini hanya ada 8 planet di tata surya", ujar Michael Brown, dari California Institute of Technology (Caltech) Keputusan ini dihasilkan melalui voting peserta yang hadir di hari terakhir International Astronomical Union (IAU) di Praha, Ceko. Voting dilakukan setelah 8 hari berdebat tak berujung diantara 4 proposal yang berbeda dalam pertemuan itu.
Namun keputusan tersebut menimbulkan pro dan kontra yang amat serius diantara kalangan astronom di seluruh dunia. Masalahnya kurang dari 5 persen dari jumlah astronom di seluruh dunia yang memilih dalam voting di forum IAU yakni 424 astronom yang memilih dalam voting, sementara di dunia ada 10.000 astronom profesional. Saat ini para astronom di seluruh dunia sedang mengumpulkan petisi untuk menanggapi keputusan IAU tersebut.
Mengapa orbit Pluto lonjong?
            Melihat dari sejarah penemuan Pluto. Pluto pertama kali ditemukan pada tahun 1930 oleh Clyde W. Tombaugh di Observatorium Lowell di Flagstaff Arizona. Penemuan Pluto terkait dengan adanya gangguan pada orbit Uranus. Setelah beberapa dasawarsa data terkumpul, diperoleh bahwa gerakan Neptunus tidak cukup untuk menjelaskan adanya gangguan pada orbit Uranus, sehingga para ahli mulai memikirkan adanya planet lain yang orbitnya berada diseberang orbit Neptunus. Pickering dan Lowell kemudian mencoba mencari kedudukan planet kesembilan ini (Planet X). Namun penelitian yang dilakukan sejak tahun 1905 sampai meninggalnya Lowell pada tahun 1916 tidak menghasilkan apa-apa. Pickering masih mencoba mencari planet ini dengan menghitung ulang posisi planet yang kemudian diberi nama Planet O. Sampai pada tahun 1929 ia menyerah karena masih tidak menemukan planet tersebut. Setelah itu pada 1930, Tombaugh menemukan Planet X tersebut yang diberi nama Pluto.
            Sejak Pluto ditemukan, dia sudah memiliki orbit yang lonjong. Dan belum ada penelitian lebih lanjut mengenai mengapa orbit Pluto lebih lonjong dari orbit planet-planet lainnya. Dalam al-Qur’an sendiri sudah dijelas mengenai garis orbit planet-planet.
وَهُوَالَّذِيخَلَقَاللَّيْلَوَالنَّهَارَوَالشَّمْسَوَالْقَمَرَكُلٌّ فِي فَلَكٍيَسْبَحُونَ




Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya (Q.S. 21:33)
Dalam ayat tersebut telah terang dijelaskan bahwa matahari dan bulan beredar menurut garis edarnya. Keseluruhan alam semesta yang memiliki garis edar masing masing sehingga tidak ada tumbukan antara planet satu dengan yang lain juga telah dijelaskan dalam surat 51:7
وَالسَّمَاءذَاتِالْحُبُكِ

Demi langit yang mempunyai jalan-jalan,

















DAFTAR PUSTAKA

Admiranto, Gunawan. 2009. Menjelajahi Tata Surya. Yogyakarta : Kanisius.
Parker, Stave. 2007. Penjelajah Ruang Angkasa Misteri Ruang Angkasa. Bandung : Pakaraya.
Purwanti, Endang. 2009. Ada Apa dalam Tata Surya Kita? Klaten : Intan Pariwara.
Wiramihardja, Suhardja, dkk. 2008. Astronomi. Yogyakarta : TPOA.
Woodford, Chris. 2007. Penjelajah Ruang Angkasa Drama Ruang Angkasa. Bandung : Pakaraya.

0 komentar:

Posting Komentar